Organisasi Kita : Sebuah Kritik
Pembukaan
Organisasi Kita digambarkan sebagai sebuah perahu yang berlayar di tengah samudera tanpa membawa banyak bekal dari pelayar terdahulu. Meskipun, pelayar terdahulu punya caranya sendiri mencapai daratan, cara tersebut tak pernah terungkap secara gamblang kepada pelayar baru. Pada periode sekarang, sejarah organisasi ini mencatat, sejak 6 bulan pada masa akhir menghadapi masa sulit dengan beberapa kali memperlihatkan pertentangan antara idealisme dan realita.
Idealisme, hal yang melandasi lahirnya cita cita dari suatu struktur dan tatanan perkuliahan yang sebaik-baiknya (biasa disebut : ideal), yang memberikan keleluasaan bagi individu individu untuk berdemokrasi seraya mengeluarkan pemikiran terbaiknya, karya terbaiknya, dan tindakan terbaiknya sejak hari pertama dipasangkan status mahasiswanya, dicabut statusnya di hari wisuda, hingga berpencarnya ia ke masyarakat luas. Hal tersebut dilakukan dengan sengaja dalam tujuan kesuksesan massa yang seluas-luasnya tanpa pandang bulu serta nama baik institusi yang telah menggembleng kita semua bersama. Tetapi realita dari rute yang dipilih dan ditempuh, sayangnya dalam perkembanganya kelihatan buram dari sudut pandang cita-cita tersebut.
Bagian 1 : Bertemu Gelombang
Perjalanan organisasi ini tidak semulus seperti hal-hal ideal yang tertulis sebelum layar perahu organisasi ini dibentangkan. Begitu pula para awak di dalamnya tidaklah punya kuasa atas angin yang berhembus dan menabrak layar perahu tsb. Ketika sekali dihadapkan pada gelombang besar, semua mata tertuju pada satu individu. Bukan lain tatapan itu berarti sebuah desakan atas keputusan Kapten yang mesti hadir secara segera. Kali ini ia tak bisa lagi labil, ia harus tegas. Dalam menentukannya, ia berunding keluar masuk ruangan ruangan tempat para konsultan dengan pengalaman segudang. Akan tetapi, hal tersebut bukanlah hal yang dapat dengan bertele dilakukan mengingat gelombang terus bergerak yang sedikit lagi mengenai haluan dari perahu. Dengan pertimbangan dan dalam rangka mempercepat keputusan itu dijawab dengan hadirnya sebuah tim khusus. Tim yang secara instan dibentuk dengan SDM diimpor dari pulau pulau terdekat berisikan penduduk-penduduk lokal yang pada akhirnya dibriefing untuk punya tujuan sama, yaitu untuk memecah gelombang itu. Hal itu diterima begitu saja oleh para awak dengan tiada menyatakan pertanyaan atau keberatan yang prinsipiil. Sebagian besar menyatakan tindakan Kapten itu dengan dalil "keadaan darurat”. Saya salah satu yang merasa ganjil dengan hal tersebut.
Ada pertanyaan, bagaimana bisa kapal itu mengimpor sumber daya manusia?
Bagi saya yang ikut dalam kapal tersebut, pastinya sangat tidak ingin perahu yang saya naiki tenggelam. Sebagai sesama penumpang, sesekali memberikan jajak pendapat dengan Kapten tentang bentuk dan susunan canangan rute yang efisien. Akan tetapi, Kapten sudah kadung memiliki tim tersebut, yang memiliki sumber daya jauh lebih mumpuni dari saya dan para awaknya. Canangan dari saya serta tim saya dengan medium yang tim saya miliki digantung (baca: ditolak secara halus). Saya tidak mempermasalahkan hal tersebut meskipun saya tidak mengetahui alasannya. Satu hal yang mengganjal adalah proses penyatuan pikiran yang acap kali diartikan sebagai pikiran yang satu. Alangkah baiknya setiap pendapat yang dikumpulkan dilakukan sesuai azas demokrasi. Kesempatan musyawarah dimanfaatkan sebaik-baiknya. Apabila siap untuk meminta pendapat, Kapten juga harus siap dengan pendapat bermacam, termasuk bersebrangan. Hal itu karena musyawarah tidak bisa dijadikan sebagai wadah pencarian legitimasi pendapat pribadi. Tiba lah di suatu titik di mana kritik yang saya sampaikan tiba di titik teratas, yaitu dengan memberikan fair chance dalam waktu yang layak. Kapten untuk mengalami sendiri, apakah sistemnya itu akan menjadi suatu sukses atau suatu kegagalan. Sikap ini saya ambil sejak perundingan kami yang tidak berhasil kira-kira dalam 2 bulan. Ada ukuran yang objektif yang akan menentukan dalam hal ini. Tercapaikah atau tidak kemakmuran dan kesuksesan massa dengan itu, kemakmuran dan kesuksesan yang Kapten sendiri juga menciptakannya dengan sepenuh-penuh fantasinya? Sanggupkah ia menahan gelombang dengan tim bentukan di luar kuasa demokratis itu? Itulah ukuran objektif yang tepat terhadap konsepsinya itu. Semua mata tertuju pada gelombang di depan yang bersiap menghantam perahu. Atas dasar tanggung jawab dan komitmen saya yang berada di perahu tersebut, saya tetap mendukung dengan cara melihat gelombang lain dari belakang perahu. Istilah lainnya, saya memercayakan hadapan depan pada Kapten dan timnya yanng baru dibentuk itu.
Waktu berlalu, satu objektif diselesaikan dengan baik oleh Kapten dan timnya. Gelombang tersebut dilewati kita semua satu perahu. Kapten merayakan bersama beberapa awaknya. Saya termasuk kagum dengan keputusan Kapten dan saya menyatakan rasa terima kasih saya telah diselamatkan dari peluang ketenggelaman. Meskipun kita semua menyadari, bahwa melewati satu gelombang di lautan bukan sebuah akhir. Gelombang yang sama masih bisa kembali dari arah manapun. Tim yang disebutkan pada sebelumnya sudah sepi terdengar, entah apakah telinga saya yang kurang peka mendengar sahutan mereka, atau mereka sudah pulang ke pulaunya masing masing.
Bagian 2 : Pascagelombang
Satu objektif lagi yang menjadi PR untuk Kapten juga para awak. Kita masih berada di tengah samudera, butuh waktu sekiranya 6 bulan untuk tiba di daratan terdekat. Kembalilah kita pada situasi sebelum gelombang datang, yaitu dengan tujuan mempertahankan kecepatan perahu. Uniknya, meskipun sudah dilewati itu gelombang tetapi gelombang lain justru ada di dalam perahu itu sendiri. Entah itu hanya sekadar cipratan dari gelombang yang lewat atau ada yang sengaja mengguyurkan bak agar terjadi banjir di perahu ini. Semua tak lagi sama. Hampir lupa, saya belum menyatakan peran saya di perahu ini. Kebetulan saya sebenarnya adalah pendamping kapten dalam perihal pencatatan dan administrasi di dalam perahu yang sekaligus menjadi pemegang kunci brankas yang berisi emas perak sebagai perbekalan pelayaran kita. Label "pendamping Kapten" semakin buram terlihat setelah dilewatinya gelombang itu. Kapten yang terbiasa mandiri kini tak lagi mesti menjajakan pikirannya dengan pendamping. Pendamping tak mesti lagi menjajakan buah pikirnya kepada Kapten. Terkesan berjalan ke arah yang sama namun saling sebrang dibatasi sebuah jalan. Hal ini dibuktikan dengan pengelolaan brankas yang terjadi dualisme. Kapten dengan ide ide segarnya, kini tak lagi melewati saringan dari pendampingnya. Ide-ide segar itu tak dapat terlaksana tanpa adanya modal. Dengan kepiawaiannya, Kapten menemukan cara untuk mengakses brankas, bahkan tanpa menyentuhnya.
Pada satu waktu, brankas itu bobol, saya melihat ada luka di pintu brankasnya. Kapten dengan sigap mengklarifikasi hal tersebut, bahwa sebenarnya ingin minta izin kepada empunya brankas, tetapi saat itu sedang tak ada. Kapten juga mengklaim telah menyampaikan hal ini sebelumnya, yaitu dalam rangka ide segarnya yang telah ada dijamin di peraturan pelayaran ini, seharusnya saya sebagai pemegang kunci tak perlu panik lagi. Asisten saya yang mengelola brankas menanyakan kebenaran hal tersebut pada saya. Saya mengklarifikasi hal tersebut. Adalah benar bahwa hal tersebut telah disampaikan, tetapi tidak sepenuhnya. Pembelaan saya adalah pastinya kalau saya dan empunya ide telah sepakat atas suatu hal, dengan tutup mata pun saya berikan kunci brankas itu. Hal kesepakatan itu belum tercapai karena masih ada alternatif lain untuk memodali ide segar tersebut. Sayangnya hal itu telah kadung. Lubang kecil di brankas hanya bisa ditambal, emas yang melayang tetaplah melayang. Asisten saya cukup keheranan, ia pun gelisah. Saya pun, tetapi saya dan ia harus tetap tenang. Dan bertekad untuk mencegah kebocoran ini terjadi lagi.
Waktu terus berlalu, daratan hampir terlihat. Setelah menghadapi puluhan mabuk laut, Kapten punya ide segar untuk mengobati rasa pusing awak awaknya dengan mengadakan pesta megah nan meriah setibanya di daratan. Apa yang dibutuhkan pesta megah nan meriah? Betul, emas. Sepertinya brankas ini semakin menggoda siapa siapa saja yang melihatnya. Namun, Kapten bukanlah keledai yang mengorek dan jatuh di lubang yang sama. Kali ini tak lagi brankas yang jadi buronan. Di pikirnya, kalau brankasnya sulit kita akses, kita kumpulkan saja orang orang yang memegang emas dari brankas itu. Dikumpulkanlah diam diam pemegang emas itu. Disatukannya lah emas emas yang semestinya kembali ke brankas, agar tak dapat masuk lagi. Itu semua masuk ke peti tersembunyi yang saya tak ketahui. Semakin sengitlah persaingan antarperebutan emas ini. Saya sendiri sangat malu untuk berada di situasi seperti ini. Selain karena hal ini jadi pertaruhan kehormatan Kapten sendiri, hal ini juga sudah tak sesuai dari cita cita seorang output pelayar yang cakap. Dalam konteks ini adalah mahasiswa yang ideal. Yang tak habis pikir lagi, saya rasa tak pernah sekalipun memasang palang antara kami berdua. Ataukah rasa kepercayaan kepada saya sebagai pengelola brankas itu sudah hilang? Entah.
Bagian 3 : Pemimpin dan Kehormatan
Membahas kepemimpinan saya teringat kepada Abah Iwan Abdulrachman, beliau adalah guru dari guru saya. Beliau terkenal di tanah priangan sebagai penakluk ratusan gunung dan pendidik karakter pemimpin sejati. Beliau menghayati kehidupan ini yang pada hakikatnya adalah jalan kita memimpin. Adalah yang dimaksud memimpin dengan kita diciptakan sebagai insan untuk menjadi seorang khilafah. Khilafah adalah manusia sebagai wakil, pengganti atau duta Tuhan di muka bumi.dengan kedudukannya sebagai khalifah Allah swt. dimuka bumi, nantinya manusia akan dimintai tanggung jawab dihadapannya.
Menurut Abah, pemimpin dan awaknya harus memiliki jiwa korsa. Jiwa korsa bukanlah budaya taat atasan, bukan juga hirarki-minded. Jiwa korsa adalah komitmen yang ada di dalam nurani setiap anggotanya untuk berjibaku mencapai tujuan organisasi itu. Komitmen itu yang dilahirkan oleh seorang pemimpin. Kalau pemimpin mampu untuk menjadikan tujuan kelompok menjadi tujuan pribadi, tujuan itu akan tetap dituju meskipun pemimpinnya mati.
Bagaimana cara pemimpin menumbuhkan tujuan kolektif menjadi tujuan pribadi pada awaknya?
Ia lahir dari peniruan. Ia lahir dari kebiasaan. Sebaik baik pemimpin yang terhormat adalah ia yang dapat menerjemahkan tujuannya hingga masuk ke dalam nurani penirunya. Sesudah hal itu terjadi, pemimpin tak perlu lagi menyerok hingga bawah aspal. Kita lihat kan di Jawa Tengah sana ada pemimpin yang mengais sampah di hadapan warganya. Ada pemimpin yang masuk ke gorong gorong untuk mengeruk tanah. Apakah hal itu baik? Bagi beberapa pandangan, ya. Tetapi hal itu juga bisa diartikan sebagai ketidakcakapan si pemimpin dalam menerjemahkan tujuannya dalam membangun sistem yang dapat menggerakkan awak awak nya. Awak awaknya tak memasukkan tujuan dari kegiatan dia ke dalam nuraninya. Dan ketika hal tersebut terjadi, luputlah kehormatan seorang pemimpin di hadapan awaknya.
Siapakah yang salah? Awak? Bukan. Berhati-hatilah.
Jika rumput tidak tumbuh secara wajar karena pohon-pohon besar di sekelilingnya terlalu rindang, tinggal merenggangkan pohon besar itu. Dengan begitu, sinar matahari akan diserap secara adil oleh berbagai jenis tanaman walaupun tetap akan terjadi dominasi tumbuh secara alamiah.
Pada akhirnya, saya memahami bahwa Kapten memiliki tujuannya selalu baik, tetapi langkah-langkah yang diambilnya kerap kali menjauhkan dia dari tujuannya itu. Sistem yang diadakannya sekarang akan membawa ia kepada keadaan yang bertentangan dengan cita-citanya selama ini
Komentar
Posting Komentar